Posts

Showing posts from April, 2016

Sesi Ganti Perban

Image
Sudah dua kali dalam seminggu ini, gw menjalani proses pengosongan drain dan ganti perban. Berangkat dari rumah jam 5 dan sukses mendarat di JBC sejak jam 06.15 hari ini. Pas ngosongin drain sih biasa aja. Dr Evert biasanya sekaligus membersihkan selang yang menuju ke drain. Karena suka ada endapan-endapan dari cairan sisa operasi di sana. Pengosongan tadi menghasilkan cairan sebanyak 250 cc. Gw tanya, kalau cairan segitu banyak itu baik atau buruk. Dia menjelaskan begini: itu baik karena artinya ada yang merekatkan daging dan jaringan baru. Apa? Gimana? Nggak ngerti :) Tapi trus lupa untuk tanyain lagi hehe. Yang paling menegangkan adalah saat buka perban. Lirik kiri, ada toket. Lirik kanan, adanya dada trepes dengan benang jahit warna hitam. Eeeeeekk. Scarry. Padahal itu juga gw baru tampak atas, belum tampak depan *so help me God* Pas sesi buka perban, dr Evert memastikan Hil ada di samping gw. "Suami harus lihat, supaya tahu penderitaan istri." Abis itu gw s

Dedikasi

Image
Adalah sampai di JBC jam 06.15 untuk ketemu dr Evert.

Lymphedema

Image
"Tangan emas" alias tangan kanan gw yang mesti dieman-eman ini terjadi karena pasca mastectomy, gw mengalami apa yang disebut 'lymphedema'. Ringkasnya kira-kira begini. Ketika tumor di payudara dipastikan ganas, maka kelenjar getah bening harus diangkat juga. Mengapa? Karena kelenjar getah bening itu mengeluarkan cairan yang jadi 'jalan tol' buat sel kanker berpindah tempat. Kalau analoginya dr Erwin di Carolus dulu, kelenjar getah bening itu seperti Terminal Senen: dari situ, si sel kanker bisa berpindah ke mana pun di tubuh kita. Kelenjar getah bening itu tersebar di tubuh kita. Beberapa di antaranya ada di daerah ketiak (axilla). Nah ketika tumor di payudara gw dipastikan ganas, maka dari itu kelenjar getah bening di daerah ketiak ikut diangkat juga. Antisipasi. Ketika kelenjar getah bening itu diangkat, maka seperti ada saluran yang macet gitu dan bocor. Karena itu bisa bengkak -- bengkak ini tuh dari cairan kelenjar yang menumpuk karena salurannya m

Padat Informatif soal Kanker Payudara

Barusan nemu blog berbahasa Indonesia yang menjelaskan dengan cukup sederhana dan sangat informatif soal kanker payudara. Penting dibaca. Biar pinter :) Buku Saku Dokter - bagian soal Ca Mamae alias kanker payudara. Blog Diriku Wanita - ditulis oleh seorang dokter yang kanker payudara.

Latihan Pasca Mastectomy

Image
Salah satu fokus baru gw sekarang adalah melatih tangan kanan. Itu artinya sekaligus memperkuat tangan kiri gw. Untuk posting kali ini, misalnya, gw pakai tangan kiri. Tepatnya, jempol kiri. Beruntung gw menemukan e-book gratis ini . Kata blog itu, the best time to start exercise is now. Next step adalah yoga for breast cancer, 6 minggu setelah operasi. Yuk ah!

Fokus Baru

Tadi ketemu dr Evert untuk cek drain dan bekas operasi. "Dok, kan saya istirahat seminggu. Jadi pekan depan saya ke kantor bawa drain?" "Mikirnya jangan kejauhan. Fokus dulu aja sama penyembuhan." Hehe iya. Kata dr Evert, seminggu ini gw harus fokus penyembuhan, makan sayur dan latihan tangan. Udah tiga itu aja. Tadi juga sekaligus kuras isi drain, isinya 300cc. Kata dr Evert sih segitu masih banyak. Makanya dia neken-neken bagian ketiak untuk mengeluarkan sisa cairan yang terperangkap di sana. Yang menegangkan adalah pas buka perban. It looks scary from my perspective *___* Fokus, fokus, fokus!

Menenteng Drain

Image
D engan drain masih nempel ke badan gw, posisi drain ini jadi penting. Dia nggak boleh sampai copot selangnya. Kalau dari RS, drain ditaruh dalam kantong plastik, lalu disematkan pakai peniti ke bagian dalam baju. Menurut suster, drain jangan ditaruh dalam tas karena nanti posisi drain tidak mengikuti posisi tubuh. Tapi kaitan peniti di baju bikin rusak baju dong. Apalagi isi drain makin berat. Akhirnya sekarang gw akali begini. Gw pakai ikat pinggang di dalam baju, lalu drain dimasukkan dalam kantong kain dan dipenitiin ke ikat pinggang. Baju aman. Drain aman. So far, so good. Gw cuma berasa bawa kantong koin kemana-mana aja nih. Serasa kantong Pak Janggut. Eeeh.. abis selesai posting eh peniti copot. Drain sempet jatoh huhu. Berarti peniti udah nggak kuat karena isi drain makin banyak. Mari kita cari cara lain.  Sekarang, gw pakai semacam tas kecil gitu, lalu bagian tentengannya dimasukkan ke ikat pinggang. Ikat pinggang dipasang seperti biasa, tapi di bagian

Balada Tangan Emas

Image
Ketika Wening nengok, dia protes. "Kok elu nggak kayak orang sakit sih?" Wening ini teman SMP gw. Ibunya juga mastectomy tahun lalu. "Tapi dia nggak ngelanjutin kemo. Dia pilih herbal aja sama seorang dokter di Ragunan," kata dia. Pas gw cerita soal tangan kanan yang berasa agak kebas, dia langsung menyambung cerita soal ibunya lagi. "Ibu kan suka masak. Dia suka bikin kastengel gitu. Kan kecil-kecil tuh, jadilah tangannya bengkak. Atau ngulek." Yah si Tante. Pantesan aja tangannya sakit. Yang gw cemaskan sekarang salah satunya adalah tangan kanan gw. Ini tangan utama gw. Perasaan kebas di pangkal tangan itu nggak enak. Rasanya tebeeeel nggak karuan. Kalau dipegang, lebar lengan kanan dan kiri terasa beda.  Selama gw update blog ini, pakai hp dan tentunya lebih banyak jari tangan kanan yang bergerak. Dan ujungnya ya jelas, sakit. Huhuhu apa kabar keahlian gw ngetik 10 jari dong ini.  Yaaahh namanya juga hidup baru yak. Dija

Apel

Image
Sambil ngaca. Gw: Senj, lucu ya satu ada, satunya nggak ada (nunjuk ke arah dada) Senja: Iya. Pake apel aja yang satunya lagi.

Edukasi Bocah

Image
Senja: Jadi yang itu nggak tebal lagi? (sambil nunjuk ke arah payudara kanan) Gw: Iya. Kan karena ada penyakitnya. Senja: Jadi ada nambah satu (nunjuk drain) dan berkurang satu (nunjuk payudara) Gw: Nah jadi impas kan... Senja: Oh iya ya. Sesi edukasi kanker payudara untuk anak dimulai :) PS: Gambar adalah kreasi Senja untuk menyambut kepulangan gw dari RS.

Support Sesama Suami

Image
Sesi kunjungan dari Pandu ke rumah sakit itu penting buat gw terutama buat Hilman. Pandu adalah teman SMA gw, dan istrinya, Ranti , juga kanker payudara. Kisah istrinya ditulis dalam buku " Hairless ". Pandu bilang, momen mastectomy atau pengangkatan payudara terhitung kecil jika dibandingkan proses selanjutnya. "Elu harus mikirnya ini adalah angkat penyakit, bukan angkat payudara. Nangis boleh, tapi abis itu ya sebaiknya lempeng lagi. Kayak Ranti tuh, dia mah lempeng banget," cerita Pandu. Ranti dulu juga harus mastectomy. Benjolan di payudaranya ketemu pas dia lagi hamil 7 bulan. Setelah anaknya lahir, dia menjalani proses mastectomy. Plus lanjut aneka kemo. "Elu pasti masih mau liat macem-macem kan, Cit. Masih mau liat Senja wisuda. Masih mau nulis. Itu aja yang elu pikirin." Lantas dia cerita proses kemo istrinya yang selama 15 cycle itu. Panjang dan berat, apalagi mereka kemo di Singapura. Plus mereka baru punya bayi pula. &qu

Menjaga Drain

Image
Ini adalah drain. Isinya cairan bekas operasi yang mesti dikeluarkan. Suster Tio, asisten dr Evert bilang, tempat payudara kanan gw yang diangkat itu kayak kubangan. Nah di situ banyak cairan. Di sana dipasang selang dari area operasi, nyambung ke si drain. Hari Rabu, hari pertama setelah operasi, keluar cairan 150 cc. Lalu hari berikutnya, 350 cc. Nah hari ini 150 cc juga. Tadi visit ke dr Evert untuk cek drain. Dia periksa selang sampai ke arah bekas operasi. Sampai buka plester. Gw udah ngeri aja dia bakal buka plester semuanya, huhuhu. Kata dia, ada yang selang yang macet karena ada endapan dari sisa operasi. Dia pencet-pencet itu selang dan membersihkan. Sambil kasih tau gw untuk menjaga supaya selang tetap lancar. "Ini kan kayak sungai. Sungai kan suka banyak limbah rumah tangga tuh. Nah endapan di selang ini kayak limbah rumah tangga. Jadi harus bersih. Kalau nggak, bisa banjir," kata dr Evert. Dan sisa cairan operasi ini nggak bisa keluar lewat pipis dan keringa

Rosalia

Image
Rosalia adalah pasien di bed yang persis sebelah gw. Gw tau namanya aja dari suster. Dia sakit DBD. Anak Papua. Kami nggak pernah ngobrol. Paling senyum aja pas nggak sengaja ketemu. Juga sama ibunya yang suka nungguin. Gw malah suka nggak enak sama mereka karena yang jenguk gw suka nggak kira-kira volumenya. Dan dia pasti hafaaaalll banget penyakit gw karena gw kayak kaset rusak karena ngulang cerita melulu hahaha. Kemarin sore mereka pulang. Pamitan dong secara mereka harus lewat bed gw untuk menuju pintu keluar. Kami bertukar senyum dan anggukan. "Kakak boleh minta foto bareng?" Lha. Ibunya menjelaskan. Rosalia ini ternyata mahasiswa jurnalistik di UPI-YAI. Jadi ya selama teman-teman jenguk, dia ikut dengerin. Ada Mbak Riska yang cerita JawaPos TV. Mbak Dewi cerita soal CNN. Mbak Arin cerita soal siaran di Kemhan. Tami cerita soal Kompas TV. Bayu Kalanglarik cerita soal kerjaan pekerja seni dan bayar pajak. Sampai Mas Tosca cerita soal simposium 65, rekonsiliasi di

Jadi Drakula

Image
Pas Raut, Hiras dan Stania jenguk, suster datang. "Ibu HB-nya 8. Kita harus konsul ke internis." Wiiihh. Gw emang thalassemia minor, tapi baru sekarang ngerasain HB rendah begitu. Jadilah dibawa ke dr Sugiono. Dia bilang, gw pucat banget. Dia langsung ngebandingin telapak tangan dia dan gw. Eh iya bener pucat. Gw pikir efek lampu :) Hil langsung bilang,"Kamu juga jangan terlalu semangat. Istirahat!" Baiklaaah... Selama nunggu itu kantong darah, mendadak merasa cemas. Entah kenapa. Mungkin efek badan tiba-tiba berasa dingin nggak karuan sampai mesti dilapis sama sleeping bag Hil. Jam 2 pagi akhirnya dapat kantong darah yang dicari. Yak pasang infus lagi daaaah... Ternyata rasanya dingin ya pas sesi transfusi berlangsung.  Terima kasih buat Bu atau Pak yang darahnya mengalir di tubuh gw yaaa. Muah!

Latihan Tangan bersama Senja

Image
Gw dan Hilman udah cerita sama Senja soal penyakit ini. Sebelum dan sesudah gw operasi. Gw nggak tau dia sepaham apa soal penyakit ini. Yang jelas dia baru ngeh kalau 1 payudara gw ngilang pas kemarin dia jenguk di rumah sakit. Dia langsung bilang "What?" dan ikutan ngeliat pas gw lagi nunjukin. Mungkin dia bingung ya, apa konsekuensi ini buat dia. Tapi apa pun itu, Senja manis sekali. Dia bantuin gw latihan tangan. Panduan Hilman cuma dua: "Bantu pakai tangan kamu dan lihat mukanya Ibun." Jadilah dia sepanjang sore membantu gw latihan angkat tangan kanan pelan-pelan. Lalu setelah selesai latihan maka Senja akan tanya lagi: mau latihan lagi? Oh kesayanganku.

Mesti Hidup Sehat

Kemarin dr Diah datang untuk ngecek kondisi gw. Dia adalah dokter umum yang sebelumnya kasih informed consent ke gw dan Hil. Dia datang pas masih ada beberapa teman yang jenguk. Jadi sekalian aja kayak penyuluhan deh :) 11 tahun lalu, dia juga kanker payudara. Payudara kiri diangkat, lalu tentu harus serangkaian kemo. Dia bilang, setelah ini gaya hidup harus dijaga betul. Jangan stres. Makan boleh aja. Yang nggak boleh hanya yang diawetkan dan diinapkan. Yang diinapkan maksudnya adalah yang diangetin gitu lho. "Banyak makanan enak yang diinapkan gitu. Rendang, gudeg, sayur lodeh... enak kaan. Kalau mau makan itu, yang fresh aja." Lalu ayam, boleh. Kalau ayam kampung, bagus. Daging boleh tapi jangan lemaknya. Kalau ayam broiler, jangan makan kulitnya *noooooo* Ikan asin, telur asin dan cumi asin, harus bye bye *nooooooooooo* "Tapi, semua makanan yang nggak boleh itu jadi boleh pas kemo," kata dia. Asik! Ya ini mungkin sama ya teorinya kayak gw kalau lagi mens i

Sebelumnya

Image
Sebelum segala operasi ini jalan, gw tanya sama Hil: kamu gimana kalau aku mastectomy? Yaaaa bagaimana pun harus gw tanya dong.    Hil bilang: "Itu badan kamu, kamu pilih mana yang terbaik aja." Oh kekasihku. Aku cinta kamu. Sementara gw sendiri ya kalau pas lagi riset soal mastectomy suka tercekat sendiri. Anjrit, kayak gitu ya ntar kalo pas buka perban. Maaaak.... Tapi ya kalau dipikir-pikir... pertama, ngapain nyimpen penyakit. Udah lah let it go. Kedua, pasti yang ditempuh adalah jalur medis macam mastectomy ini, bukan alternatif. Yaaa iyaaa kali bokap nyokap dokter trus gw ke dukun... itu namanya kualat sama orangtua kekekekek. Ketiga, orang nggak akan tau gw mastectomy dengan hanya melihat fisik gw. Kalau sekarang kan ya gw ember aja hahaha. Keempat, gw nggak mencari nafkah pakai toket. Gw kan tukang ketik, seperti kata Senja hahaha. Yang paling penting adalah yang kelima: happy to be alive. Setelah itu ya hajar bleh aja. Hil bilang, abis ini energi harus dihemat

Sebelumnya Ngerasa Apa?

Image
Itu adalah pertanyaan yang paling sering muncul dari beberapa teman yang menjenguk hari ini. Jawabannya: nggak ada. Gw nggak demam, nggak nyeri, nggak sakit, nggak pusing atau apa pun. Gw hanya nggak sengaja menggaruk bagian bawah toket kanan dan lantas menemukan benjolan itu. Itu terjadi pada Minggu malam. Itu di awal April 2016. Benjolan itu nggak sakit, nggak nyeri. Dia hanya ada di sana. Bayangkan apa jadinya kalau malam itu gw nggak sengaja menggaruk... Gw nggak akan tahu ada itu barang sampai entah kapan. Setelah ketemu benjolan, gw langsung buka YouTube dan cari soal Sadari - periksa payudara sendiri. Gw periksa ulang dan betulan ada. Karena itulah segala proses USG payudara dll segera diambil. Abis itu ya story of my life. Karena itulah, segera lakukan Sadari. Jangan takut.

Half Breastless

Image
Hidup baru dengan payudara satu. Oh betapa itu sungguh berima. Tadi kakak gw nanya, gimana rasanya pas liat kalau tinggal satu? Hm. Saat ini area di mana payudara kanan gw pernah berada masih penuh perban. Perbannya gede. Beda dengan yang kiri, karena perban hanya ada di area atas. Jadi kalau yang di kanan, ya langsung keliatan perut. Nggak biasa dong, karena sebelumnya kan terhalang payudara. Sekarang sih belum merasa horor. Mungkin nanti pas lepas perban. Brrrhh. Pas Mirana dan Reggie nengok, gw menawarkan ke mereka untuk lihat. Langsung ditolak mentah-mentah sama Mira yang bilang "nggak tega". Sementara Reggie memberanikan diri dengan alasan "ini bagus untuk pembelajaran kita, Mir!" Setelah gw bilang kalau ini masih diperban, baru Mira mau. Gw seperti ingin berbagi aja: gini lho half breastless. Nggak bermaksud berbagi kengerian atau apa gitu. Tapi ya mending ngeri sekarang trus jadi hati-hati. Atik mengusulkan supaya gw bikin tato di situ. Hmm, ide men

Kisah Jackpot (2)

Image
Nah kalau ini adalah seperti yang diceritakan oleh Hilman - kekasih hatiku, cahaya dalam hidupku. Hanya 30 menit setelah gw masuk ruang operasi, ada petugas yang keluar dan berkata,"Keluarganya Ibu Citra?" Si petugas membawa baki. Itu dia si jahanam. "Ini tumornya Pak. Dari payudara kiri." Hilman langsung lemes. "Nggak mau difoto, Pak?" Eh iya ya bisa difoto. Langsung lah buru-buru difoto. 30 menit kemudian, datang kabar berikutnya. Tumor nomor 2, dari payudara kanan. 30 menit berikutnya lagi, datang kabar berikutnya. Tumor ke-3, masih dari payudara kanan. Yak jackpot. 3 tumor. Mantap. Lalu yang berikutnya, yang muncul adalah dr Evert dan dokter patologi anatomi. Hil langsung degdegan. "Pak, kami ada kabar baik dan kabar buruk." Yak... *drumroll* Kabar baiknya adalah yang di payudara kiri itu tumor jinak. Jadi tumornya diangkat dan operasi selesai. Kabar buruknya adalah yang di payudara kanan itu tumor ganas. Dua-duanya. Karenanya k

Kisah Jackpot (1)

Image
Mari kita cerita soal operasi. Operasi berlangsung pada Selasa (19/4/2016). Puasa dari jam 2 pagi karena operasi dijadwalkan jam 8 pagi. Sampai jam 8 lewat, nggak kunjung ada tanda-tanda. Badan mulai lemes. Bibir mulai kering. Lapeeerrrr maaaakk. Nyaris jam 9, barulah rombongan suster datang. Gw diminta naik ke tempat tidur dorong, lalu dibawa ke ruang transfer. Di situ gw masuk sendiri, meninggalkan Hil, bokap, nyokap, Om Yono dan Tante Siska. Tentu, ciuman super hot dulu dong sama Hil sebelum berpisah *penting* Di ruang transfer, gw mencoba menenangkan diri. Mau kabur juga udah terlambat. Jadi ya hayo hajar bleh aja. Lalu datang dr Evert. "Sudah siap? Sudah berdoa? Semoga jinak ya," kata dia sambil megang tangan gw. Ah kamu dok. Kan gw jadi sedih kalau digituin... Abis itu, tempat tidur didorong lagi masuk ke OK-1. Okeh, this is it. Semua udah pakai busana siap bedah. Lalu ada satu yang pasang infus di tangan kiri. Suster masang alat apa gitu di kaki gw. Abis itu, do

Re-route

Image
Tadi ibu yang sekamar sama gw cerita macem-macem. Soal kemo, soal kanker dia yang sudah menyebar ke tulang dan kepala, soal pengangkatan payudara sampai tips seputar BPJS untuk kemo. Nah penting itu hihihi. Obrolan kayak gini mungkin bakal makin sering gw lalui. Dan ini adalah jenis obrolan yang nggak pernah gw pikirkan. Ini ibarat re-route kalau di Google Map atau Waze. Butuh waktu untuk menemukan rute lain -- tapi itu bukannya tanpa rencana. Yang paling penting adalah bergembira untuk rute mana pun itu. Sembari terus bikin rencana-rencana baru. And support from everyone is priceless.

Count Down

Image
Proses ini ditandai dengan datangnya roti di tengah malam. Ini adalah penanda gw segera mulai puasa jelang operasi. Operasi nanti jam 8 pagi. Makan minum terakhir jam 2 pagi. Setelah jam 2 pagi nggak boleh masuk apa pun. Termasuk air putih. Dwoh. Ya sudah. Semua resiko sudah diketahui sejak awal. Segera tiba kejutan hidup berikutnya.

Makanan Rumah Sakit

Image
Sungguh makanan rumah sakit itu nggak mengundang selera. Penampilannya itu lho. Mestinya ada pihak yang mengolah penampilan makanan di rumah sakit. Seharusnya makanan sehat itu penampilannya oke. Biar semangat gitu lho makannya. Atau sebaiknya dibikin perlombaan. Misalnya pemberian bintang Michelin untuk makanan rumah sakit terbaik. Ya sudah ya mari kita sikat aja. Namanya juga lapeeerrrr....

Terima Kasih

Image
Hai payudaraku. Besok kalian dioperasi ya. Terima kasih untuk jasa kalian selama ini. Terutama karena sudah memberi makan buat Senja selama dia menyusui. Enam bulan yang penuh perjuangan dan menyenangkan. Kalau ternyata ganas, maka ini farewell buat payudara kanan. Be nice to me ya hai payudara kiri. Akhir pekan lalu gw bikin sesi foto buat mereka hahaha. Yah mana tau betulan perpisahan. Biar ada kenang-kenangannya gitu. Hope for the best. Prepare for the worst. Eh nggak worst dong ah. Mastectomy adalah pilihan paling sehat untuk gw, jika betul ditemukan ganas. Semoga besok lancarrrr...

Kamar 202

Image
Gw daftar kamar di RS Kramat 128 sejak hari Kamis, setelah selesai konsul dengan dr Sugiono. Prosesnya kira-kira begini: - Bawa surat dari dr Evert (kop JBC) tentang operasi yang akan dilakukan. Di situ dirinci tuh apa yang akan dilakukan di payudara kanan dan kiri - Admin RS nanyain, pakai jaminan atau enggak. Kebetulan kali ini gw pakai asuransi kantor. - Kasih kartu asuransi kantor, dicek plafon apa yang dicover sama asuransi - Lalu cek harga di RS tersebut, mana yang cocok. - Admin RS akan cek ketersediaan kamar. Kalau belum ada, maka masuk waiting list dan dikasih tahu kapan harus cek lagi. Untuk kasus gw, karena gw dijadwalkan untuk operasi hari Selasa 19 April 2016, maka gw mesti masuk RS dari hari Senin. Nah pas Kamis itu, belum ketauan tuh apakah di hari Senin bakal ada kamar kosong atau enggak sesuai kelas yang dicover sama asuransi. Tadi pagi Hil nelfon rumah sakit, lalu ternyata belum ada kamar kosong. Wuih deg-degan amat. Apa perlu bikin Plan B nih? Sore-sor

Siap Operasi

Tadi siang gw ketemu dr Sugiono untuk konsul hasil tes kesiapan operasi. Yang dicek: - EKG atau rekam jantung - Golongan darah - gw itu O, tapi karena nggak ada kartunya, lebih baik dicek ulang Setelah dicek dr Sugiono, dinyatakan baik. Hb gw juga oke karena sudah di atas 10, meskipun mepet. Untuk itu, gw sebut juga kalau gw thalasemia minor. "Thalasemia itu sel darah merahnya gampang pecah. Dan itu memicu yang lain untuk membeku. Itu kondisi yang disebut darah kental," kata dia. Tapi untuk kesiapan operasi, kondisi thalasemia gw oke aja. Biar gw nggak berasa rugi karena udah nunggu antrian dr Sugiono ini selama 3 jam, maka gw tanyain yang lain-lain aja. Gw tanya soal poster di depan: kenapa kalau kita kanker payudara itu mesti cek juga anggota keluarga yang punya kanker prostat dan ovarium? "Hormon," kata dia. Ooooh. Dia juga bilang kalau kanker itu genetis. Meski begitu, bisa aja si sel kanker itu diem-diem aja dan nggak tumbuh. Pemicu si sel kanker

Twilight Zone

Image
Foto: i.ytimg.com "Saya ke sini untuk beli silikon sekalian..." "Rambut saya sih udah panjang lagi abis kemo. Udah potong rambut berkali-kali juga." "Ibu dulu diangkat semuanya atau enggak? Kalau saya iya." "Udah stadium berapa kata dokter?" "Saya kemo-nya di sana, pakai BPJS. Bagus kok pelayanannya." "Saya beli beha-nya di sana tuh. Enak nggak sakit. Ada merk baru, tapi berat katanya." Gile. Kayak di Twilight Zone. Nggak pernah terbayang kalau gw bakal ada di tengah percakapan kayak gini.

Tanpa FNAB, Mari Kita Kemon

Image
Foto: tqn.com Tadi pagi konsul ke dokter Evert lagi di JBC. PR utama adalah menanyakan perlu atau tidaknya FNAB. Serta kasih hasil bone scanning. Kata dr Evert, bone scan aman. Hasil periksa darah juga aman. Asik! Lalu gw tanya soal FNAB itu. Dr Evert kembali menjelaskan kalau tingkat akurasi FNAB itu 97 persen. Artinya, masih ada peluang salah. "Kalau sudah FNAB, akan tetap biospi di meja bedah juga kan?" "Iya dong." "Oh ya udah. Langsung biopsi terbuka aja deh." Horeee.. hemat 750 ribu perak :) Dr Evert lantas menjelaskan lagi apa yang akan terjadi di dalam ruang bedah kelak. Yang akan dikerjakan: payudara kanan dan kiri. Mulai dengan payudara kiri dulu: - Kenapa? Karena isinya kista - Caranya? Menyedot cairan dari dalam kista. - Jika betul itu kista, maka seharusnya berisi cairan. Jika betul begitu, maka dokter akan menyuntikkan obat ke dalam kista tersebut. - Jika tidak ada cairan yang keluar, maka akan diambil sebagian untuk VC s

Menyerap Energi Semesta

Image
Tumor itu sebetulnya dekat sekali sama kehidupan gw. "Ada Nita, ada Iyut. Tapi toh tetap saja kita nggak melakukan Sadari," kata Mbak Vie pada suatu makan siang. Betul sekali. Dan meskipun kita tahu Sadari adalah kuncinya, toh itu kunci tetap aja jarang dipakai. Padahal Sadari itu bisa mengubah banyak hal dan sungguh bisa dilakukan. Coba kalau deteksi kanker ovarium, susah kan. Di awal-awal, ketika memikirkan soal ganas, juga mastectomy, bikin berasa helpless. Nggak ada yang bisa dilakukan selain menunggu waktunya tiba. And uncertainty kills. Tapi sekarang, kayaknya gw makin pandai mengelola itu. Paling enggak gw berusaha menyerap energi orang lain ketika mereka bilang 'yang kuat ya!' atau 'semangat!' dan sejenisnya. Dari situ, mudah-mudahan muncul juga energi positif dari gw. Abis ini tinggal atur waktu sesi foto toket. Buat kenang-kenangan kalau skenario mastectomy harus terjadi. Itung-itung memenuhi aspek 'prepare for the worst' hahaha

Tangis-tangisan

Image
Abis bone scanning dll di RSPAD, gw balik ke kantor. Laptop masih kebuka dan nyala gitu, sekalian mau diangkut ke rumah. Plus rapat-rapat sama Quin soal kerjaan. Begitu masuk, ketemu Mbak Vie. Dia langsung ke meja gw. Lalu gw ceritain lah bla bla bli bli-nya. Pas gw cerita, eh tiba-tiba ada air mata turun di Mbak Vie. "Ih Mbak, elu jangan nangis dong. Kan gw jadi ikutan." "Duh iya ya, harusnya aku nggak nangis. Harusnya aku ajak bercanda aja yaaa..." Trus kita sama-sama berurai air mata dan buru-buru menghapus air mata. Iya lah dibawa seneng aja. Kalau kata Menteri Susi Pudjiastuti kan "Kebahagiaan adalah energi." Malam-malam Mbak Vie kirim WA: "Kamu harus sembuh Cit!" Oke pasti Mbak! "Seneng terima WA kamu kalau isinya kerjaan." Lhaaaa teteeuuup aja soal kerjaan yang diomongin... hahaha!

Bone Scanning (2)

Image
Petugas memanggil nama gw. Disertai order: pipis dulu. Oke sip. Abis itu, gw masuk ke ruangan bone scanning. Pasien sebelumnya sedang persiapan selesai. Giliran gw, mari kita masuk. Ruangannya dwingiin bukan kepalang. Lalu gw tiduran di alas tidur itu. Dikasih semacam gulungan untuk menahan supaya tangan gw tetap di samping paha, kayak dalam posisi siap di baris berbaris. Lalu dikasih selimut tebal dua lapis. Amin. "15 menit ya," kata petugasnya. Abis itu mesin mulai bergerak. Lalu gw ketiduran.... "Sudah selesai ya," kata petugas pas bangunin gw sambil kasih nota untuk ambil hasil. Duh mudah-mudahan gw nggak mendengkur hahhaha.

Bone Scanning (1)

Image
(Foto: Wikimedia) Bone scanning ini dilakukan untuk mencari tahu apakah sudah ada penyebaran tumor ke tulang atau belum. Nggak semua RS bisa lakukan tindakan ini. Sesuai di amplop JBC, bone scanning bisa di RSCM, RSPP, RSPAD dan Dharmais.  Gw pilih RSPAD karena lumayan deket dari kantor. Jam 9 lewat telp ke Gatot Soebroto. Eh baru deh ketahuan kalau bone scanning ada hari ini, besok nggak ada. Wah ya udah lah hari ini aja lah.  Langsung ke ojek pangkalan trus cuss ke tempat bone scanning.  Lokasinya adalah di Kedokteran Nuklir. Ini beda dengan Radiologi. Adanya di lantai 2.  Begitu daftar antrean, ditanya: sudah bawa minum?  Gw kaget. Kamu kok perhatian banget.. *tersedu* Eh ternyata enggak. Memang harus minum selagi nunggu bone scanning. Prosesnya adalah disuntik, lalu nunggu 3 jam sembari minum air yang banyak.  "Wah saya nggak bawa minum." "Oh ya sudah, bisa beli di sini kok." Lalu dia ngeluarin dua botol Aqua yang ukurannya bes

Konsul ke dr Evert

Image
Dr Evert adalah dokternya Nita waktu dia angkat tumor payudara beberapa tahun. Dan dia juga adalah dosennya nyokap gw. Kebayang dong tuwirnya kayak apa hihihi. Gw ketemu dr Evert ini di Jakarta Breast Center (Jl Kramat VI no 24). Dapat nomor antrian 7. Mungkin karena usia ya, kalau ngomong sama dr Evert mesti rada kenceng, hehe. Dia lakukan pemeriksaan fisik dulu ke gw. Telaten banget. Lama banget itu ngeraba, sambil kasih info ke suster soal hasil rabaannya. Yang rada ajaib adalah dia ngukur besaran benjolan pakai penggaris segitiga huehe. Untung nggak pake jangka. Ajaib yang kedua adalah toket gw ditandain pakai spidol merah. Nggak cuma titik, tapi sesuai besaran benjolan yang kerasa sama tangan dia. Mudah-mudahan abis ini nggak buat main dart game hihihi. Kalau dari hasil periksa fisik dr Evert, begini: - kanan ada 2 tumor, kiri kista (berisi cairan) - ukuran tumor yang kanan Jam 11-3: 3,6 x 2,9 cm Jam 6: 1 x 0,6 cm Jam 6: 1,5 x 1 cm Ini rada beda dengan hasi

In God's Plan

Image
Gw nggak tau mana yang lebih bikin stres: Bi-Rads 4 alias ganas atau bakal menghadapi kenyataan kalau payudara berpotensi diangkat. Untuk yang kedua, nggak terlalu mestinya. Gw nggak perlu foto bugil demi mencari nafkah toh yaaaa.. Yang pertama, it is. Ganas. Artinya I will live with that my whole life. Or I might not have "my whole life" at all. Jadi ya jangan mati lah ya *amin amin amin* Toh ada banyak orang yang tumornya diangkat dan baik-baik saja. Toh ada banyak orang yang kemo dan baik-baik saja. Toh ada banyak orang mastectomy, dan baik-baik saja. Atau mungkin gw perlu menulis surat seperti Angeline Jolie ? Hahaha.  I just hate being in the middle of uncertainty. I'm a well-planned person. I don't like surprises. I like to have plan B-Z ready. Tapi ngeriset bikin deg-degan, nggak ngeriset bikin tambah degdegan. Lieur euy.  I'm in God's hand. And not knowing what the plan is ahead for me. "Begini ini yang maksudnya d

Mammo mammo

Image
Nita sempat bilang: kalau disuruh mamografi, jangan mau, sakit! Lalu gw disuruh mamografi sama dr Erwin. Haha. Yuk ah mari dikerjakan saja. Ini terjadi di Carolus pada hari Sabtu (9/4/2016). Gw disuruh ganti baju dulu. Lalu gw berhadapan dengan sebuah alat besar. Toket gw bakal diapain yak.  Begitu sampai di depan alat, gw diminta buka baju. Toket gw menganga. Lalu diminta untuk nempelin toket ke sebuah alas. Lalu dilebar-lebarin itu toket. Setelah dirasa pas, baru deh si petugas nginjek pedal. Kayak di mesin jahit mainan gitu. Dan lempengan di atas pun turun. Lalu toket gw digencet dua lempengan atas bawah. Yahuuuyyy. Pas yang toket kanan,  cincay. Giliran toket kiri dikerjain, ada semacam papan plastik di depan gw. Mantul dong tuh pemandangan toket digencet. Daripada ngilu, gw liat ke tempat lain aja dah. Pose berikutnya agak akrobatis. Gw harus pegangan di suatu bar, toket gw ditata lagi. Kali ini area yang mau disorot adalah bagian samping sekaligus sampai ke ara

Ini Dia Kata Dokter Bedah Onkologi (2)

Image
Kalau udah biopsi dan ketahuan hasilnya (jinak atau ganas) barulah bisa disebut ketahuan hasilnya. Tenang atau butuh langkah lanjutan. Jika diketahui ada tumor ganas di 1 tempat, maka bisa disebut itu adalah kanker stadium 2a. Sementara kalau ketahuan di 2 tempat, maka disebut kanker stadium 2b. Tingkat penyebaran kanker, bisa diketahui. Butuh tes lagi. Dan ini tergantung pada perangai biologis setiap orang. "Punya kucing nggak di rumah?" "Nggak. Adanya anjing." "Nah anjing kampung sama anjing ras itu perilaku biologisnya kan beda tuh. Untuk kita, juga beda. Harus lakukan tes lagi yang disebut IHK." Ok, tapi itu nanti. Setelah biopsi. Setelah ketahuan jinak atau ganas. So I still have a chance. I don't know how much considering the Bi-Rads 4 for the tumor on the right breast & Bi-Rads 2 for the left breast. Ini saatnya pasang moda pasrah, yang diiringi usaha maksimal. This is God's plan after all.

Ini Dia Kata Dokter Bedah Onkologi (1)

Image
(Foto: mayoclinic.org) Akhirnya ketemu Dr Erwin, bedah onkologi di Carolus. Dia cukup komunikatif, juga menjelaskan dengan bahasa yang sederhana. Dia mulai dengan lihat USG mammae lanjut pemeriksaan fisik. Soal benjolan di payudara kanan -- ini si massa padat ukuran 2x2x2 cm yang batasnya tidak jelas itu. Lalu bentuk yang atas-bawah lebih dominan ketimbang yang kiri-kanan.  "Ini tidak begitu baik," kata dr Erwin. Pas di-USG, itu kan payudara rada ditekan. Nah, si benjolan tetap begitu saja. Dari size-nya terlihat sisi atas-bawah lebih dominan ketimbang kiri-kanan. Dia membandingkan dengan bulatan empuk yang kalau dipecet maka akan jadi gepeng. Nah, ini enggak. Artinya: mencurigakan. Karena itu dikasih penanda Bi-Rads 4b. Singkat kata: berpotensi ganas. Bi-Rads itu cuma sampai 5, sementara di gw adalah Bi-Rads 4b. "Yang level 4 itu A sampai Z?" "Bukan, cuma sampai B." Wakwaw. Di payudara kanan juga ada benjolan dengan ukuran kecil

Dua Opsi

Saat ini ada 2 opsi dokter: dr Erwin di Carolus & dr Evert di Jakarta Breast Center/RS Kramat 128. Dr Erwin ini ternyata spesialis bedah tumor di RSCM. Sering juga bicara di seminar soal tumor secara umum atau soal tumor payudara. Jadi rasanya meyakinkan juga gitu. Sementara dr Evert Poetiray ini reputasinya lebih top lagi. Nita dulu operasi tumor sama dr Evert, di RS Kramat 128. Nah dr Evert ini juga adalah dosennya nyokap gw. Berarti tua byangeeeet tuh. Jangan-jangan udah lewat 80 tahun. Pilih yang mana? Sayangnya nyokap nggak kenal sama dr Erwin ini. Jadi nggak bisa kasih opini juga. Kalau ngobrol sama Hil, dia kasih pertimbangan soal jumlah banyaknya praktik si dokter. Dari hasil Google, dr Evert hanya di JBC & Kramat 128. Sementara pas terakhir ngantri dr Erwin (yang akhirnya gw pulang duluan karena kemaleman itu), si dokter lagi lakukan operasi di RSPP. Berarti dia praktik di RSPP, Carolus, RSCM. Yaaaa ketiga RS ini sih reputasinya bagus semua yak, tapi secara jumlah

Doa

Image
Pas kemarin ke Semarang, kita mampir ke Pagoda. Nama pagodanya panjang, jadinya lupa. Di situ, Hil beli lembaran doa warna merah. Kita juga sempet pasang tiga lembaran doa itu di pohon depan Pagoda. Tadi pagi nemu lembaran doa merah itu di pintu kamar. "Semoga daging jahat Ibun segera lenyap dan Ibun sehat lagi." Amin. Sekarang kertas doa itu dipasang di pohon kamboja Cipinang di depan rumah. Biar cepet sampai ke Tuhan :) 

Bye Makanan Enak

Yang berat adalah berpisah dengan sate. Untungnya udah makan sate buntal 29 depan Gereja Blenduk Semarang yang diselimuti dengan rasa... bersalah. Yang lainnya mah cincay. Ayok Dace mari kita makan sehat!

Senut-senut

Nggak tau ini perasaan gw aja atau emang beneran. Kayak senut-senut di area benjolan. Atau itu di pikiran gw aja ya?

Pakai Asuransi Apa?

Ini penting untuk rasa tenang di hati. Lha ya masa udah bayar asuransi trus nggak bisa dimanfaatkan. Ini opsi yang gw punya: 1. BPJS Gw bisa meniru langkah yang dulu dilakukan Hilman saat operasi tiroid. - Ke Puskesmas/faskes tingkat 1 - Ke RSUD Bekasi Di RSUD Bekasi nggak ada bedah onkologi. Jadi most likely akan dioper ke Jakarta. Seinget Hil, dia dulu dirujuk ke RS Pusat: RSCM atau Persahabatan. Karena keduanya punya bedah onkologi. Apakah bisa ke Carolus? Nggak tau. Info dari orang admin Carolus, pas di RSUD jangan rikues mau ke RS mana karena khawatir itu menggugurkan status BPJS. Gw nggak tanya lebih lanjut soal itu. Cobaannya sudah jelas: antri tak berkesudahan. 2. Prudential Ini terhitung asuransi paling baru yg gw punya. Agennya adalah tetangga rumah hahaha. Tapiii, ternyata ada masa tunggu 12 bulan untuk operasi aneka jenis benjolan. Aih. Lama amat. Bisa-bisa gw keburu punya 3 toket kalau nunggu selama itu. 3. Manulife Ini adalah asuransi dari kantor. Sedang dal

USG Payudara

Image
Ini kali pertama gw USG payudara. Dokter yang memeriksa adalah dr Albertu. Betul, Albertu, bukan Albertus. Si dokter ini laki-laki. Bolak balik minta izin, minta maaf dan permisi ke Hilman pas mau mulai pemeriksaan. Telentang, buka baju dan bra lalu mulai di-USG. Lama juga proses USG itu. Kayaknya hampir 2 jam. Di payudara kanan, ditemukan 3 benjolan. 1 besar, 2 kecil. Jumlah itu bukan patokan. Yang lebih dilihat adalah ukurannya serta bagaimana bentuk si massa padat itu. Yang besar itu ditemukan di deket areola. Ya dia itu si benjolan yang gw rasakan. Di payudara kiri, ada kista. Tapi dia nggak terlalu khawatir soal itu. "Kalau bisa dibiopsi dulu ya," kata dia. Sembari menekankan kalau itu penting banget. Gw sih bukan anak alternatif ya. Jadi opsi biopsi pasti akan dijalani. Ortu dokter, kalau trus nggak percaya jalur medis kan kuwalat :)

Konsul dengan Internis

Image
Okeh. Ini pertemuan pertama dengan dr Fransiska. Perempuan, masih muda. Gw diperiksa dengan cara telentang. Buka baju dan bra. Lalu diraba. Dia pun menemukan benjolan itu. Jadi ini bukan halusinasi gw. Confirmed. Lantas gw diminta USG payudara alias USG mammae. Begitu kelar hasilnya, balik lagi ke dia untuk baca hasil. Begitu liat hasil USG, dia menyarankan untuk diangkat. Nadanya teges dan lempeng aja gitu.  "Sebaiknya ini diangkat supaya kita tahu ini jinak atau ganas. Kalau udah diangkat, ketahuan, baru bisa tenang dan menentukan langkah selanjutnya." Setuju. Dari hasil USG, diketahui kalau massa itu  betul ada. Ukurannya kurang lebih 2 x 2 x 2 cm. Itu besar  atau kecil, gw tanya begitu. "Kalau di bawah 1 cm, kita bisa abaikan. Tapi kalau udah ukuran segini, sudah kita anggap berarti," kata dia. Huwah. Bentuknya padat, batasannya tidak jelas dan ada peningkatan vaskularitas alias aliran darah. Tiga item itu membuat curiga, kata

Pilih Dokter Mana

Pagi-pagi langsung kasih tau Hilman. Ada benjolan. Gw minta Hilman juga untuk meraba. Dia juga merasakan. Tapi itu hari, kami nggak langsung ke dokter. Belum mikir aja. Malam pas mau pulang, gw nebeng bokap. Kebetulan bokap mau ke dokter yang di Pd Bambu untuk minta rujukan. Hil tanya: mau sekalian cek? Gw jawab, enggak. Somehow ada perasaan nggak mau bikin mereka cemas soal benjolan ini. Selain itu, gw pilih bareng Hil atau sendirian aja. Hil mau nemenin. Oke, besok yak. Pilih dokter nih sekarang PR-nya. Selasa akan dimulai perjalanan itu. Jakarta Breast Center atau yang lainnya? Jakarta Breast Center Telp 021 3106681 Alamat Jl Kramat VI no 24 Sempat telp JBC. Ternyata dr Evert yang dulu tangani Nita lagi nggak praktik. Pas nelfon, ditanya dulu benjolannya di mana. Kalau di payudara, harus ketemu awal sama dr Evert. Jadwal dia sudah penuh pekan ini, jadi gw ngetek untuk Senin. Akhirnya kami ke Internis di Carolus. Hampir semua dokter penyakit dalam itu laki-

Benjolan

Awalnya adalah rasa nyeri di bagian aerola. Kayak nyeri akibat luka gitu. Tapi lantas terasa ada yang keras. Benjolan. Duh. Malam itu juga sebetulnya pingin bangunin Hilman untuk kasih tahu. Tapi besok aja deh. Diraba lagi. Masih ada. Di daerah aerola, sebelah bawah. Fyi, gw dan Hilman baru merayakan anniversary ke-9 dengan jalan-jalan bareng Senja ke Semarang.